Author: Dian Rahma, S.Gz., RD
Pada awal kehamilan, banyak ibu tidak menyangka bahwa minum air bisa menjadi tantangan. Rasa mual yang datang tanpa aba-aba, membuat segelas air putih terasa terlalu penuh, bahkan terkadang memicu muntah. Padahal, di fase inilah tubuh sedang bekerja keras—menyesuaikan diri, membangun kehidupan baru, dan membutuhkan lebih banyak cairan dari biasanya.
Ibu hamil memerlukan tambahan air sekitar 300 ml per harinya, sehingga rekomendasi konsumsi air hariannya mencapai 2,6 liter1. Saat asupan cairan menurun akibat mual dan muntah, sementara kebutuhan tubuh terus meningkat, dehidrasi ringan dapat terjadi tanpa disadari. Akibatnya, tubuh terasa lebih cepat lelah, kepala terasa ringan, dan urin berubah menjadi lebih pekat. Keluhan-keluhan ini sering dianggap wajar dalam kehamilan, sehingga tidak selalu dihubungkan dengan kurangnya cairan. Padahal faktanya, 42% ibu hamil di Indonesia tidak memenuhi kecukupan asupan cairan harian2.
Setelah bayi lahir, tantangan bergeser ke fase menyusui. Setiap hari, tubuh ibu memproduksi air susu dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan bayi. Di mana faktanya 87-88% komposisi ASI adalah air3. Cairan yang dikeluarkan melalui ASI ini tentu harus digantikan. Ibu menyusui, membutuhkan tambahan air hingga 800 ml per harinya, sehingga direkomendasikan untuk mengonsumsi air kurang lebih 3 liter setiap harinya1. Jika hal ini tidak terpenuhi, tubuh akan melakukan kompensasi dengan berbagai mekanisme yang dimiliki oleh tubuh ibu. Di sinilah banyak ibu mulai merasa cepat lelah, kurang segar, dan sulit memulihkan energi.
Dalam keseharian, ibu sering menunda minum karena sibuk mengurus bayi. Hal ini terbukti dalam fakta yang menyebutkan bahwa 54% ibu menyusui di Indonesia tidak memenuhi kecukupan asupan cairan harian2. Air putih tetap menjadi pilihan utama, tetapi tidak selalu mudah dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dan tentunya tidak selalu mengandung elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh. Pada kondisi tertentu—seperti cuaca panas, tubuh yang banyak berkeringat, atau mual yang masih dirasakan—sumber cairan seperti minuman elektrolit dapat sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan cairan harian.
Minuman dengan kandungan elektrolit rendah kalori dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu penyerapan cairan dengan lebih efektif, tanpa menambah asupan kalori berlebih. Minuman ini dapat membantu ibu menjaga keseimbangan cairan tubuh di tengah tuntutan fisik yang tinggi.
Menjadi ibu sering kali berarti mendahulukan kebutuhan anak. Namun, dengan menjaga hidrasi, ibu juga sedang menjaga dirinya sendiri. Karena tubuh yang terhidrasi dengan baik adalah fondasi penting bagi ibu yang sehat dan bayi yang tumbuh optimal.
Referensi:
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 28 tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
2. Bardosono, S., Prasmusinto, D., Hadiati, D. R., Purwaka, B. T., Morin, C., Pohan, R., Sunardi, D., Chandra, D. N., & Guelinckx, I. (2016). Fluid Intake of Pregnant and Breastfeeding Women in Indonesia: A Cross-Sectional Survey with a Seven-Day Fluid Specific Record. Nutrients, 8(11), 651. https://doi.org/10.3390/nu8110651
3. Kim, S. Y., & Yi, D. Y. (2020). Components of human breast milk: from macronutrient to microbiome and microRNA. Clinical and experimental pediatrics, 63(8), 301–309. https://doi.org/10.3345/cep.2020.00059